{"id":11771,"date":"2016-02-26T13:42:16","date_gmt":"2016-02-26T13:42:16","guid":{"rendered":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/2016\/02\/26\/ditra-pranata-raih-posisi-lima-kejurnas-indonesian-downhill-76-seri-pertama\/"},"modified":"2024-08-08T17:45:45","modified_gmt":"2024-08-08T10:45:45","slug":"ditra-pranata-raih-posisi-lima-kejurnas-indonesian-downhill-76-seri-pertama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/ditra-pranata-raih-posisi-lima-kejurnas-indonesian-downhill-76-seri-pertama\/","title":{"rendered":"Ditra Pranata Raih Posisi Lima Kejurnas Indonesian Downhill 76 Seri Pertama"},"content":{"rendered":"<section class=\"content\">\n<div class=\"left body-text\">\n<p>Yavento Ditra Pranata kembali membuktikan kualitas-nya sebagai atlet nasional dan bagian dari Polygon <em>Factory Team<\/em>, setelah sukses meraih podium ke lima pada kompetisi <em>downhill <\/em>terbesar dan bergengsi di Indonesia, Kejuaraan Nasional <em>Indonesian Downhill 76 2016. <\/em><\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p>Merupakan kompetisi<em> downhill <\/em> tahunan yang tercatat dalam <em>event<\/em> resmi UCI (<em>Union Cycliste Internationale) <\/em>dan diikuti 320 atlet dari sejumlah daerah di Indonesia yang terbagi dalam 15 kelas<em>.<\/em><\/p>\n<p>Tahun ini, Kejuaraan Nasional 76 <em>Indonesian<\/em><em>Downhill <\/em>2016 seri pertama diadakan di trek Umbul Sidomukti, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu-Minggu (9-10 April) lalu. Dengan 15 kelas yang dikompetisikan, <em>Man elite<\/em> menjadi kelas paling bergengsi dalam kejuaraan ini. Pada seri pertama untuk kategori <em>man elite<\/em>, menggunakan Polygon Collosus DH9, Yavento Ditra Pranata yang merupakan pemenang kedua pada tahun lalu , meraih podium ke lima dengan catatan waktu 2 menit 17, 190 detik. \u201cKondisi cuaca yang tidak menentu sehingga terjadi kesalahan prediksi dalam pemilihan ban yang digunakan, untuk seri selanjutnya akan lebih baik lagi\u201d ujar Yavento Ditra Pranata.<\/p>\n<p>Polygon Collosus DH9 sendiri merupakan model terbaru tahun 2016 untuk seri <em>Downhill<\/em>. Polygon Collosus DH9 terlahir dari <em>project Ripple Coalition<\/em>; yang melibatkan: tim <em>design <\/em>global Polygon asal German, Perancis, Amerika Utara, dan Asia serta hasil riset bersama atlit profesional Polygon. Collosus DH9 yang juga telah diuji pada setiap sirkuit <em>UCI World Cup Downhill <\/em>selama 2 musim terakhir, serta berhasil membawa Polygon UR Team meraih beberapa podium pada kompetisi <em>downhill <\/em>kelas dunia. Polygon Collosus DH9 sendiri dilengkapi dengan sistem suspensi terbaru dengan <em>travel <\/em>203mm untuk peningkatan kualitas <em>handling<\/em>, kontrol sepeda dan responsifitas sepeda dalam menaklukan setiap rintangan, hantaman, dan lompatan besar.<\/p>\n<p>Polygon Collosus DH9 tidak hanya sukses mengantarkan Yavento Ditra Pranata meraih podium, juga mengantarkan \u201c<em>The big boy\u201d<\/em> Kurt Sorge menjuarai Red Bull Rampag<em>e<\/em> tahun 2015 lalu. Polygon Collosus DH9 sendiri memang didesain untuk &#8220;<em>Downhill Winning Machine<\/em>&#8221; yang telah teruji dan juga sudah menjuarai sirkuit UCI World Cup DH.<\/p>\n<\/div>\n<\/section>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"fb-comments fb_iframe_widget\" data-href=\"https:\/\/www.polygonbikes.com\/id\/blog\/ditra-pranata-raih-posisi-lima-dikejurnas-indonesian-downhill-76-seri-perta\" data-num-posts=\"2\" data-width=\"470\"><\/div>\n\n    <div class=\"xs_social_share_widget xs_share_url after_content \t\tmain_content  wslu-style-1 wslu-share-box-shaped wslu-fill-colored wslu-none wslu-share-horizontal wslu-theme-font-no wslu-main_content\">\n\n\t\t\n        <ul>\n\t\t\t        <\/ul>\n    <\/div> \n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yavento Ditra Pranata kembali membuktikan kualitas-nya sebagai atlet nasional dan bagian dari Polygon Factory Team, setelah sukses meraih podium ke lima pada kompetisi downhill terbesar dan bergengsi di Indonesia, Kejuaraan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":11772,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[890],"tags":[872,948,947],"acf":[],"gutentor_comment":0,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11771"}],"collection":[{"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11771"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11771\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":69935,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11771\/revisions\/69935"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11772"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11771"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11771"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/polygon-wp-2021.tongkolspace.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11771"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}